DESAN PENILAIN KINERJA (Performance) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A.
Pendahuluan
Asesmen merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa
dipisahkan dari kegiatan
pembelajaran. Tujuan utama dari asesmen adalah untuk meningkatkan kualitas
belajar siswa, bukan sekedar untuk penentuan skor (grading).
Oleh
karena
itu
asesmen dimaksudkan sebagai
suatu
strategi dalam pemecahan masalah pembelajaran
melalui berbagai cara pengumpulan dan penganalisisan informasi untuk pengambilan keputusan (tindakan) berkaitan dengan semua aspek
pembelajaran (Cole & Chan, 1994). Proses dari asesmen biasanya memerlukan tingkat pemikiran analitis lebih tinggi daripada pengukuran
kemampuan.
Asesmen pembelajaran biasanya
memerlukan serangkaian upaya untuk menjawab
pertanyaan yang spesifik. Misalnya, seorang guru ingin mengungkap permasalahan matematika apa yang dihadapi oleh seorang siswa, dan bagaimana cara membantu siswa
tersebut agar kemampuannya dapat berkembang secara optimal. Tentu saja guru itu harus mengumpulkan banyak informasi
mengenai siswa tersebut seotentik mungkin
melalui proses asesmen. Informasi seperti ini sangat membantu guru mengidentifikasi permasalahan yang
dihadapi
siswa
sebelum
ia memutuskan tindakan
yang
akan dilakukan untuk
membantu siswa tersebut.
Di lain pihak, asesmen dipandang sebagai kegiatan yang biasa dilakukan terpisah
dari pembelajaran dan umumnya dilakukan melalui
tes
pencapaian (achievement test). Tes
seperti ini biasanya dilakukan di akhir kegiatan pembelajaran untuk
mengukur hasil belajar siswa. Banyak argumen yang menyatakan bahwa tes pencapaian sampai sekarang
ini
masih relevan untuk mengukur hasil dari proses belajar dan menentukan siswa dalam
kegiatan
remediasi sebagai upaya penuntasan
belajar.
Tulisan ini akan mereviu perkembangan asesmen yang dilatarbelakangi
paradigma lama berwarnakan behaviorism dan pengukuran ilmiah
(scientific measurement) menuju
paradigma
baru bercirikan kognitivism dan
konstruktivism
serta asesmen
otentik. Pembahasan akan bermuara pada asesmen otentik yang merupakan kegiatan
terpadu dengan proses pembelajaran (on-going assessnent) untuk membantu siswa
belajar dalam upaya meningkatkan
kualitas pengajaran.
B. Tujuan dan Prinsip Asesmen
Bila asesmen merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran matematika, maka hal ini
akan berkontribusi secara nyata
terhadap kegiatan belajar seluruh
siswa.
Terkadang asesmen terfokus pada
tes
untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa, namun ada yang
lebih penting dari itu. Asesmen bukan sekedar tes di akhir
pembelajaran untuk mengecek
bagaimana siswa bekerja dalam kondisi
tertentu, namun harus terlaksana pada saat pembelajaran berlangsung untuk memberi informasi kepada guru memandunya dalam menentukan tindakan mengajar dan membelajarkan siswa. Menurut NCTM (2000) asesmen jangan dilakukan hanya kepada siswa tetapi asesmen harus dilakukan
untuk siswa yaitu memandu dan
mengarahkan mereka dalam
belajar.
Apabila asesmen ditujukan untuk mengetahui apa yang telah dipelajari siswa dan apa yang dapat mereka lakukan, apakah asesmen seperti ini dapat memiliki konsekuensi
positif
terhadap belajar? Asesmen yang baik adalah yang dapat meningkatkan siswa
belajar dalam beberapa cara. Tugas atau permasalahan yang diberikan dapat memberikan informasi kepada siswa, jenis pengetahuan matematika dan
kemampuan apa yang dapat memberikan nilai tambah bagi mereka. Informasi ini harus mengarahkan siswa dalam
mengambil keputusan, misalnya bagaimana atau di mana (untuk hal yang
mana) mereka harus belajar keras. Kegiatan yang konsisten, atau terkadang sama, dengan kegiatan pembelajaran harus termasuk dalam
asesmen. Misalnya,
ketika guru menggunakan
teknik asesmen seperti observasi,
berbicara dengan siswa, atau jurnal reflektif, pada saat itu pula siswa belajar mengatikulasi
gagasan-gagasan mereka dalam menjawab pertanyaan
guru.
Balikan yang diperoleh dari respon-respon siswa dalam asesmen akan membawa
mereka untuk menginstropekasi banyak
hal
berkaitan dengan kegiatan belajar melalui self-assessment, apakah tujuan belajar mereka telah tercapai, mencoba untuk
bertanggung jawab dalam belajar, dan melatih menjadi pembelajar yang mandiri. Sebagai
contoh,
petunjuk penilaian, seperti rubrik,
dapat memberikan arahan bagi siswa dalam
menjawab suatu permasalahan, sehingga mereka tahu karakteristik dari jawaban yang
komplit dan benar.
Bagi guru hal ini sangat membantu dalam menganalisis dan menggambarkan respon siswa terhadap masalah yang diberikan untuk menentukan tingkat pemahaman
siswa.
Sejalan
dengan hal di atas, diskusi kelas di mana siswa mempresentasikan dan mengevaluasi
berbagai strategi/pendekatan yang digunakan di antara mereka, dapat melatih berpikir analitis mengenai respon yang tepat, benar, melalui cara yang efektif
dan efisien. Melalui pemberian tugas atau masalah kontekstual yang dikemas dengan
apik dan menarik serta diskusi kelas mengenai jawaban dan kriteria yang
diharapkan, guru dapat menanamkan dalam diri siswa suatu disposisi atau keterbiasaan dalam mengases diri sendiri dan merefleksi dari pekerjaan sendiri melalui gagasan-gagasan
berharga dari yang laian.
1. Tujuan Asesemen
Tujuan utama dari asesmen menurut Clarke
(1996) untuk memodelkan pembelajaran yang
efektif, memotitor perkembangan kemampuan siswa, dan menginformasikan tindakan yang diperlukan dalam pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas
dari peran asesmen. Melalui asesmen guru agar terpandu menentukan
metode
atau pendekatan yang harus dilakukan agar pembelajaran efektif dan memiliki nilai tambah bagi
siswa. Proses untuk mendapatkan
pembelajaran efektif akan ditemukan
melalui pengamatan dan refleksi
dari kegiatan yang dilakukan. Semua informasi yang
diperoleh
dari berbagai sumber dan melalui berbagai teknik asesmen dijadikan acuan
untuk menentukan
jenis dan bentuk tindakan
pembelajaran.
2. Prinsip-prinsip Asesmen
Berdasarkan pengalaman Belanda pada saat awal menerapkan pendekatan pembelajaran
matematika realistik atau lebih
dikenal dengan Realistic Mathematics Education (RME),
muncul masalah yang sulit dipecahkan terutama berkaitan dengan proses asesmen hasil
belajar siswa. Karena dalam pendekatan
RME
penggunaan konteks memegang peranan
penting, maka dalam proses asesmennya aspek tersebut tidak mungkin terlewatkan. Hal
ini
tampaknya sangat sederhana, akan tetapi jika kita lihat volume kerja yang harus dilakukan maka kesederhanaan tersebut berubah jadi
sesuatu
yang berat. Untuk itu diperlukan suatu strategi agar guru tidak
kehabisan stok permasalahan kontekstual yang
sesuai.
Apabila kumpulan permasalahan kontekstual telah tersedia, masalah selanjutnya
muncul adalah bagaimana cara mendesain suatu masalah yang dapat digunakan secara fair dan berimbang untuk semua siswa. Selain itu bagaimana pula caranya memberikan
penilaian (grading) kepada siswa sebagai hasil belajar mereka. Dengan demikian, secara
umum terdapat tiga
permasalahan utama menyangkut asesmen hasil pembelajaran yaitu:
(1) bagaimana memperoleh
situasi kontekstual orisinil sebagai bahan utama
untuk melaksanakan asesmen? (2) bagaimana cara mendesain alat asesmen yang mampu merefleksikan hasil belajar siswa? dan
(3) Bagaimana mengases hasil
pekerjaan siswa?
Menurut Gardner (1992)
asesmen didefinisikan sebagai suatu strategi dalam
proses pemecahan masalah pembelajaran melalui berbagai cara pengumpulan dan penganalisisan informasi untuk pengambilan keputusan berkaitan
dengan semua aspek
pembelajaran. Menurut de Lange (1997) terdapat lima prinsip
utama yang melandasi
asesmen dalam
pembelajaran
matematika, kelima prinsip
tersebut adalah sebagai berikut.
Prinsip
pertama adalah bahwa asesmen harus ditujukan untuk meningkatkan
kualitas belajar dan pengajaran. Walaupun ide ini bukan hal yang baru, akan tetapi
maknanya sering disalahartikan
dalam proses belajar mengajar. Asesmen seringkali
dipandang
sebagai produk akhir dari suatu proses pembelajaran yang tujuan utamanya
untuk memberikan penilaian bagi masing-masing
siswa. Makna yang sebenarnya dari asesmen
tidak hanya
menyangkut penyedian informasi
tentang
hasil belajar
dalam
bentuk nilai, akan tetapi yang terpenting
adalah adanya balikan tentang
proses belajar yang telah terjadi.
Prinsip kedua adalah metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga
memungkinkan siswa mampu mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukan mengungkap apa yang tidak diketahui. Berdasarkan pengalaman asesmen sering
diartiakan sebagai upaya untuk mengungkap aspek-aspek yang belum
diketahui siswa. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi pendekatan yang digunakan lebih
bersifat negatif, karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan yang
sudah mereka miliki. Jika pendekatan negatif yang cenderung
digunakan,
maka akibatnya siswa akan kehilangan
rasa percaya diri.
Prinsip ketiga adalah bahwa asesmen harus bersifat operasional untuk mencapai
tujuan-tujuan
pembelajaran
matematika. Dengan
demikian
alat asesmen
yang digunakan
mestinya tidak hanya mencakup tingkatan tertentu saja, melainkan
harus mencakup
ketiga
tingkatan asesmen, yaitu: rendah,
menengah dan tinggi. Karena
kemampuan
berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk diases, maka seperangkat alat asesmen
harus
mencakup berbagai
variasi
yang bisa secara efektif mengungkap
kemampuan
yang dimiliki siswa.
Prinsip keempat bahwa kualitas alat asesmen tidak ditentukan oleh mudahnya
pemberian
skor secara objektif. Bedasarkan pengalaman pemberian skor
secara objektif
bagi
setiap siswa menjadi
faktor yang sangat
dominan manakala dilakukan asesmen terhadap kualitas suatu tes.
Akibat dari penerapan pandangan
ini adalah bahwa suatu alat asesmen hanya
terdiri atas sejumlah soal dengan tingkatan rendah
yang memudahkan
dalam melakukan penskoran. Walaupun
untuk menyusun alat asesmen dengan tingkatan tinggi lebih sulit, pengalaman menunjukkan bahwa
tugas-tugas matematika yang ada
didalamnya memiliki banyak keunggulan. Salah satu keunggulannya
siswa memiliki kebebasan
untuk mengekspresikan
ide-ide matematikanya sehingga
jawaban yang
diberikan mereka biasanya sangat
bervariasi. Selain
itu guru dimungkinkan untuk
melihat secara mendalam proses berpikir yang
digunakan siswa
dalam menyelesaikan masalah yang diberikan.
Prinsip kelima adalah
bahwa alat asesmen hendaknya bersifat praktis. Dengan
demikian konstruksi tes dapat disusun dengan format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan
serta pencapaian tujuan
yang ingin diungkap.
Dalam Evaluation Standards yang dikembangkan NCTM di Amerika Serikat terungkap
sejumlah penekanan yang harus diberikan pada alat asesmen yang
disusun, yaitu seperti tercantum dalam Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1
Penekanan dan Pengurangan pada Asesmen
|
Bagian yang harus ditekankan
|
Bagian yang harus dikurangi
|
|
Asesmen harus difokuskan
pada apa yang diketahui siswa dan proses berpikirnya
|
Asesmen terfokus pada apa yang tidak diketahui siswa
|
|
Asesmen merupakan
bagian integral
dari proses belajar mengajar
|
Terfokus kepada pemberian
skor
|
|
Berfokus kepada tugas-tugas matematika dalam
skala
yang luas serta menyeluruh
|
Menggunakan bilangan-bilangan besar dengan tingkatan rendah
|
|
Konteks permasalahan yang
memungkinkan munculnya variasi
jawaban.
|
Soal cerita yang mencakup sedikit
kemampuan
dasar.
|
|
Menggunakan berbagai teknik
seperti
tertulis,
lisan dan demonstrasi
|
Hanya menggunakan
tes tertulis
|
|
Menggunakan alat alat bantu seperti kalkulator,
komputer, dan manipulatif
|
Larangan terhadap
penggunaan
alat- alat bantu
|
D. Asesmen Otentik
Asesmen otentik adalah asesmen yang dilakukan menggunakan beragam sumber, pada
saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. Asesmen otentik
biasanya mengcek pengetahuan dan keterampilan siswa
pada saat itu (aktual), keterampilan, dan disposisi yang
diharapkan dari kegiatan
pembelajaran. Beragam bentuk yang
menunjukkan bukti dari kegiatan belajar dikoleksi
dalam
kurun waktu tertentu dan
dalam
konteks yang beragam pula.
Walaupun konteks dalam asesmen berada di luar kelas dan hanya mengecek
aspek-aspek
tertentu dan sesaat,
tugas
yang
diberikan menggunakan integrasi
dan
aplikasi
dari pengetahuan
dan
keterampilan
yang mereka miliki.
Bukti dari sampel-
sampel yang dikumpulkan harus menunjukkna informasi yang cukup
menggambarkan tingkah
laku dan tingkat berpikir siswa. Dengan demikian melalui informasi ini guru
dapat menentukan bantuan atau arahan yang diberikan kepada siswa dan tindakan
lanjutan apa yang perlu dilakukan dalam pembelajaran.
E. Tingkatan Asesmen dan Level Berpikir
Jika
kita perhatikan tujuan diberikannya matematika di sekolah, maka akan muncul berbagai tingkatan berbeda dari alat
asesmen yang dikembangkan. Berdasrkan
kategorisasai dari
de Lange (1994),
terdapat tiga
tingkatan berbeda yakni: tingkat rendah, tingkat menengah dan tingkat tinggi didasarkan kepada tujuan yang ingin
dicapai. Karena asesmen bertujuan untuk merefleksikan hasil belajar, maka
kategori ini dapat digunakan baik untuk tujuan-tujuan yang
berkenaan dengan pendidikan matematika secara umum
maupun untuk kepentingan
asesmen.
1. Asesmen Tingkat Rendah
Tingkat ini mencakup pengetahuan tentang objek, definisi, keterampilan teknik serta algoritma standar.
Beberapa
contoh sederhana misalnya berkenaan dengan: penjumlahan pecahan, penyelesaian persamaan linear dengan satu varibel, pengukuran sudut dengan
busur derajat,
dan menghitung rata-rata dari sejumlah data yang diberikan. Asesmen
tingkat rendah ini tidak hanya menyangkut keterampilan dasar seperti yang
dicontohkan
tadi. Akan tetapi asesmen tingkatan ini dapat juga untuk
Level
III paling sulit didesain dan juga paling
sulit mengevaluasi respon siswa. Pertanyaan Level III ini menuntut berupa masalah
kehidupan sehari-hari yang
dikonstruksi secara sederhana yakni di dalamnya
tidak termuat suatu tantangan bagi siswa. Sebagai contoh perhatikan soal di
bawah ini:
Kita mengendarai sebuah mobil sejauh 170 km dan menghabiskan bensin sebanyak 14 liter. Berapa km dapat ditempuh untuk setiap 1
liter bensin yang
digunakan
Menurut katagorisasi
dari de Lange sebagian besar instrumen asesmen yang digunakan dalam matematika sekolah
tradisional pada umumnya termasuk tingkat rendah. Sepintas
mungkin kita berpikir bahwa soal yang dibuat untuk tingkatan yang paling rendah ini penyelesaiannya lebih mudah dibandingkan dengan dua tingkatan lain. Hal itu
tidak
sepenuhnya benar, karena pada tingkatan
tersebut bisa saja diberikan suatu alat asesmen
yang sangat sulit
diselesaikan oleh siswa. Sebagai contoh perhatikan soal di bawah ini yang merupakan sebuah soal
tidak memiliki makna.
Berapa 75% dari:
2. Asesmen Tingkat Menengah
Tingkat ini ditandai dengan adanya tuntutan bagi siswa untuk mampu menghubungkan
dua
atau lebih konsep maupun prosedur. Soal-soal pada tingkat ini misalnya
dapat memuat hal-hal berikut:
keterkaitan antar konsep, integrasi antar berbagai konsep,
dan
pemecahan masalah. Selain
itu
masalah pada
tingkatan ini
seringkali
memuat suatu
tuntutan untuk
menggunakan berbagai strategi berbeda dalam penyelesaian soal yang diberikan.
3. Asesmen Tingkat Tinggi
Soal pada tingkat ini memuat suatu tuntutan yang cukup kompleks seperti berpikir matematik dan penalaran, kemampuan komunikasi, sikap kritis, kreatif, kemampuan interpretasi, refleksi, generalisasi dan matematisasi. Komponen utama dari tingkat ini adalah kemampuan siswa
untuk mengkonstruksi sendiri tuntutan tugas yang diinginkan dalam soal.
Untuk mengases perkembangan berpikir dan pemahaman siswa, terlebih dahulu
akan dibicarakan tiga tingkatan
berpikir
matematik yang dikemukakan olah Shafer dan
Foster (1997). Untuk berpikir Level I secara sederhana dapat dilihat dan dinilai,
sebab
pada level ini pertanyaan-pertanyaan difokuskan seperti dalam melakukan kalkulasi,
menyelesaikan persamaan,
mengemukakan fakta berdasar ingatan, atau respon siswa terhadap pertanyaan benar/salah. Level berpikir ini berkorespondensi dan sejajar dengan asesmen tingkat rendah yang dikemukakan de Lange (1996). Bentuk dari pertanyaan Level I berupa pilihan ganda, isian singkat, dan biasanya tidak dikaitkan terhadap situasi nyata ataupun situasi imajinatif.
Berpikir Level II, respon siswa memerlukan analisis lebih sulit dari pada Level
I, sebab pertanyaan-pertanyaannya biasanya
memerlukan
informasi yang terintegrasi,
dikaitkan antara atau antar domain matematika,
atau menyelesaikan permasalahan yang tidak rutin. Soal-soal seperti
ini
sulit didesain dan sulit juga direspon siswa. Pertanyaan
untuk Level berpikir ini berkorespondensi dan
sejajar dengan asesmen tingkat menengah yang
dikemukakan de
Lange
(1996). Level
II ini lebih tepat disajikan
dalam suatu
konteks baik itu
dalam situasi nyata ataupun situasi imajinatif dan yang terpenting harus melibatkan siswa dalam mengambil keputusan matematik. Melalui permasalahan seperti
ini, guru harus memahami cara dan strategi setiap siswa dalam berpikir melalui pengamatan kinerja dan hasil pekerjaan siswa
dalam pembelajaran. Penalaran siswa dan langkah-langkah
mereka
dalam menjawab permasalahan akan menunjukkan perbedaan
kemampuan berpikir secara kualitatif.
Permasalahan siswa untuk mematematisasi situasi, yaitu dapat memahami dan mengekstraksi matematika yang implisit dalam situasi dan menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan, mengembangkan model dan strategi mereka
sendiri, dan
membuat argumen-argumen matematik
untuk digeneralisasi. Tipe permasalahan ini
biasanya open-ended. Dapat terjadi lebih dari satu respon siswa yang dinyatakan benar, sepanjang didukung argumen-argumen matematik yang valid. Level berpikir ini
berkorespondensi dan
sejajar dengan asesmen tingkat tinggi yang
dikemukakan
de Lange (1996). Mengingat karakter dari asesmen untuk berpikir Level III seperti di atas, maka permasalahan lebih tepat
dalam bentuk konteks nyata atau situasi imajinatif dan
memungkinkan siswa menemukan strategi baru dalam menyelesaikannya. Guru harus memantau aktivitas setiap siswa bahkan mengetahui strategi dan argumen massing-
masing siswa.
De Lange (1996) dan Shafer & Foster (1997)
mengembangkan suatu model
asesmen yang disebut dengan piramid asesmen
seperti tampak pada Gambar 1. Setiap
pertanyaan atau permasalahan
dalam
asesmen mesti
terletak dalam piramid sesuai
dengan level berpikir,
domain matematika, dan tingkat kesulitan. Sebagai contoh, titik x pada Gambar
1 terletak
pada level I geometri dengan
tingkat kesulitan sedang.
F. Apa yang Diases
dalam Pembelajaran Matematika?
Alasan utama dan yang sangat penting
mengapa guru melaksanakan perubahan dalam asesmen
adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai tingkat ketercapaian tujuan kurikulum, keberhasilan metode pembelajaran, dan ketepatan praktek asesmen sendiri. Melalui praktek asesmen ini guru dapat menggambarkan kesimpulan mengenai hal-hal yang
diperlukan dalam pembelajaran, progres dalam mencapai tujuan kurikulum, dan efektivitas program matematika yang
dilaksanakan. Tingkat kebermaknaan dari asesmen
akan bergantung dari keselarasan antara metode asesmen dengan kurikulum.
Apabila asesmen yang dilakukan tidak merefleksikan tujuan, maksud, dan isi dari kurikulum, maka
informasi mengenai apa yang telah dimiliki siswa akan sangat minim.
1. Mengases Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep merupakan tujuan yang
sangat penting dalam pembelajaran matematika. Untuk mengembangkan kemampuan matematika, siswa harus memiliki pemahaman mendalam mengenai konsep-konsep matematika beserta keterkaitannya. Konsep merupakan landasan
dari bangunan matematika, oleh karena itu harus tertanam dengan kokoh dan kuat karena akan menentukan
tingkat pemahaman siswa mengenai matematika. Konsep dapat dipandang sebagai kata benda dari matematika sebab selalu
merupakan
objek yang
dipelajari.
Salah satu
cara untuk
berpikir
mengenai konsep- konsep matematika adalah mengibaratkannya sebagai sekumpulan dari objek yang diberi label
Konsep-konsep
matematika jarang terisolasi
dan berdiri sendiri,
namun terbangun dalam jalinan dan koneksi. Dengan demikian, merupakan hal yang sangat
penting bagi siswa untuk membangun pengertian melalui pemahaman hubungan atar konsep-konsep penting. Berikut ini adalah contoh yang menunjukkan urutan tugas
asesmen berdasar atas pemahaman keterkaiatan keliling
dan luas. Apakah siswa
memahami hubungan antara keliling dan luas suatu bangun datar dan sampai sejauh
mana mereka memahaminya.
2. Mengases Keterampilan Matematika
Keterampilan (skills) merupakan bagian terperting
dalam aktivitas matematika (doing mathematics).
Untuk menyelesaikan permasalahan, misalnya, siswa harus mampu
melakukan keterampilan matematika dengan benar. Jika
konsep matematika merupakan
kata benda dari matematika, maka keterampilan adalah predikatnya.
Predikat ini merupakan suatu prosedur yang memungkinkan siswa untuk mampu melaksanakan tugas-tugas matematika, seperti mengkalkulasi,
mengestimasi, mengukur objek dengan alat ukur yang tepat, dan membuat grafik.
Untuk mengases keterampilan matematika,
guru dapat meminta siswa untuk melakukan
suatu keterampilan secara akurat dan
konsisten menjelaskan
bagaimana dan
mengapa prosedur yang dilakukan
menggunakan
keterampilan dalam berbagai situasi
Seperti halnya mengases konsep,
mengasek keterampilan dapat difocuskan pada keterampilan matematika itu sendiri dan dikembangkan mengarah pada bagaimana dan
mengapa keterampilan seperti itu yang dipilih siswa. Tugas
yang difokuskan untuk
mengases
keterampilan matematika memberikan kesempatan siswa untuk melakukan
latihan dengan baik, prosedur penting, atau algoritma. Tugas-tugas seperti ini biasanya adalah
hal-hal rutin, pendek, berdasarkan ingatan atau prosedur biasa, dalam konteks
sederhana, dan terfokus pada satu jawaban
yang benar
3. Mengases Kemampuan Problem Solving Matematika
Menurut NCTM (1989), pemecahan masalah (problem solving) merupakan esensi dari
kekuatan matematika. Untuk menjadi seorang yang sukses, siswa tidak saja harus memahami konsep-konsep matematika, namun mereka juga harus memiliki penguasan keterampilan matematika yang mahir. Yang lebih penting
lagi, siswa
harus mampu memanfaatkan
kedua kemampuan matematika ini untuk
memecahkan
suatu permasalahan melalui penalaran matematik
yang dimilikinya.
Pemecahan masalah matematik
didefinisikan dalam berbagai terminologi. Yang
lebih
menarik perhatian
adalah definisi
yang dikemukakan
oleh
Charles dan
Lester (1982) yaitu, permasalahan adalah suatu situasi atau tugas yang mana,
siswa
menghadapi suatu tugas yang perlu dicari solusinya;
siswa
tidak bisa langsung memiliki prosedur untuk
menemukan
solusinya;
siswa
melakukan usaha untuk mendapatkan solusinya;
banyak
cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh penyelesaiannya.
Pada dasarnya, tiga syarat utama suatu pemecahan masalah adalah kemaun, rintangan,
dan upaya. Dari pandangan tentang pemecahan masalah ini, dapat disimpulkan
bahwa tidak sedikit tugas-tugas matematika yang
merupakan permasalahan, mulai dari soal cerita yang
sederhana sampai dengan permasalahan yang
memerlukan kegiatan
investigasi.
Untuk melihat permasalahan matematik berbeda dari yang lainnya dapat
dilakukan dari tingkat keterbukaan dati permasalahan itu.
Tiga kategori permasalahan
matematika dapat disebut permasalahan tertutup (closed problem),
permasalahan semiterbuka
(open-middled problem),
dan permasalahan terbuka (open-ended problem). Permasalahan
tertutup
merupakan
tugas yang memiliki satu jawaban benar
dan
satu cara
untuk mendapatkannya. Permasalahan semiterbuka adalah tugas yang memiliki
satu
jawaban benar namun banyak cara untuk menyelesaikannya. Sedangkan permasalahan terbuka adalah tugas dengan beberapa alternatif jawaban yang benar dan banyak cara untuk sampai pada jawaban-jawaban
tersebut.
4. Mengases Sikap dan Keyakinan (Beliefs)
Sikap siswa
dalam
menghadapi
matematika
dan
keyakinanya mengenai
matematika
seringkali mempengaruhi prestasi mereka
dalam matematika (NCTM,
2000). Bahkan dalam standar evaluassi (NCTM, 1989) menyertakan sikap dan keyakitan merupakan bagian dari lima
tujuan pengajaran, yaitu belajar memaknai nilai-nilai matematika dan memiliki percaya diri
mengenai kemampuan diri sendiri.
Oleh karena itu sikap dan keyakinan
siswa perlu dipupuk, dimonitor, dan ases terus dalam
kegiatan
pembelajaran.
Sikap merefleksikan bagaimana bertindak atau berhubungan dengan matematika. Sikap terhadap matematika ini akan mempengaruhi cara melakukan sesuatu dalam matematika.
Sikap positif siswa terhadap matematika diantaranya, menyukai,
termotivasi,
menikmati, selalu ingin tahu, dan antusias. Sedangkan sikap negatif
diantaranya
menghindari,
tidak suka,
stres,
tidak
tertarik, tidak termotivasi, dan
cemas.
Keyakinan menggambarkan bagaimana siswa berpikir mengenai
sesuatu. Siswa sekolah lanjutan, misalnya,
memiliki kesempatan untuk
mengembangkan keyakinan
yang positif terhadap matematika dan bagaimana
mempelajarinya
pada
saat berada
di bangku sekolah dasar. Beberapa contoh tentang keyakinan siswa sekolah menengah mengenai
matematika diantaranya, matematika adalah perhitungan, matematika memerlukan
jawaban yang
tepat dan benar, dan pemecahan masalah
matematika memerlukan penyelesaian
menggunakan pengetahuan matematika.
H.Penutup
Asesmen merupakan kegiatan yang
tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pembelajaran.
Informasi yang terkumpul melalui kegiatan asesmen sangat diperlukan
dalam
mengambil keputusan pada saat pembelajaran dan memonitor perkembangan siswa. Semua itu dilakukan
tidak lain untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghimpun informasi
dari kegiatan
pembelajaran, mulai
dari pengamatan informal sampai ke pengukuran formal melalui tes
kemampuan. Menghimpun informasi mengenai kegiatan siswa belajar hanyalah salah
satu tujuan. Hal lain yang juga penting adalah
untuk memperoleh informasi mengenai disposisi siswa terhadap matematika. Semua informasi ini perlu dicatat agar lebih mudah
dianalisis dan selanjutnya untuk ditindaklanjuti.
Asesmen dapat dimanfaatkan untuk
beragam kepentingan
terutama
yang
berkaitan upaya meningkatkan kualitas
kegiatan siswa belajar matematika. Guru dapat
menggunakannya untuk hal yang positif seperti mendorong siswa menjadi pembelajar yang mandiri, membuat inovasi dalam pembelajara, atau untuk bahan laporan kepada orang tua siswa.
PERMASALAHAN:
Dari artikel diatas, secara umum terdapat tiga permasalahan utama menyangkut asesmen hasil pembelajaran yaitu: (1) bagaimana memperoleh situasi kontekstual orisinil sebagai bahan utama untuk melaksanakan asesmen? (2) bagaimana cara mendesain alat asesmen yang mampu
merefleksikan hasil belajar siswa? dan (3) Bagaimana mengases hasil pekerjaan siswa?
merefleksikan hasil belajar siswa? dan (3) Bagaimana mengases hasil pekerjaan siswa?
Dapatkah kalian memberikan tanggapapan atau jawaban dari permasalahan tersebut?
1. Pada artikel diatas telah dijelaskan 5 prinsip asessmen, dengan menerapkan kelima prinsip tersebut guru dapat memperoleh kondisi kontekstual orisinil untuk assesmen. Assesment yg dilakukan dapat mengungkap keadaan pemahaman siswa yg sebenarnya.
BalasHapus2. Cara mendesain assesment, yaitu ditingkatkan dari level rendah, sedanng dan sulit. Alat assesment harus mampu menilai seberapa pemahaman konsep siswa, keterampilan matematika siswa, kemampuan problem solving, dan sikap serta keyakinan siswa thd mtk.
3. Cara mengasses siswa, kita mulai dari menilai pemahaman konsep nya, dilevel mana? Rendahkah sedangkah atau tinggi kah? Kemudian keterampilan mtknya, bisakah siswa melakukan kalkulasi? Pengenalan simbol2 mtk? Dsb. Selanjutnya problem solving, bisakah siswa kita mengkaitkan antara konsep dengan persoalan yg diberikan? Yg terakhir kita observasi sikap siswa kita thd matematika, apakah mereka memiliki jiwa matematis dalam menghadapi persoalan?. Nah semua penilaian itu dikaitkan, maka akan didapat penilaian orisinil yg menggambarkan keadaan pemahaman siswa kita yg sebenarnya
setuju dengan pendapat kk eka, bahwa untuk dapat memperoleh kondisi kontekstual orisinil untuk assesmen dengan menerapkan kelima prinsip tersebut. asesmen terintegrasi dalam proses pembelajaran yang tentu kondisinya orisini, fakta atau tdk dibuat-buat. mendesain alat assement menyesuaikan dengan kemapuan siswa mulai dari tingkat kesulitan yang rendah hingga tinggi. cara menilai hasil pekerjaan siswa adalah dengan membuat pedoman penskoran yang baik dan tepat agar dapat digunakan untuk menilai hasil siswa.
BalasHapus1. Dapat menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa melaksanakan interaksi langsung dengan dunia nyata seperti pembelajaran di luar kelas. Guru dapat menyampaikan materi sembari langsung mengaplikasikan dunia nyata ke dalam pembelajaran siswa.
BalasHapus2. Dari tahap 1, guru dapat membuat instrumen penilaian bisa berupa proyek kepada siswa untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan.
3. cara melakukan penilaiannya adalah dengan membuat rubrik penilaian proyek yang jelas yang dapat mengklarifikasikn hasil proyek siswa secara jelas.
Untuk memperoleh situasi kontekstual orisinil sebagai bahan utama untuk melaksanakan asesmen yaitu guru bisa membuat instrumen perbelajaran berdasarkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari siswa. (2) cara mendesain alat asesmen yang mampu
BalasHapusmerefleksikan hasil belajar siswa yaitu dilihat dari prinsip-prinsip asesmen dan (3) cara mengases hasil pekerjaan siswa yaitu dilihat dari teknik-teknik asesmen. Guru bisa menggunakan tes atau jurnal kinerja siswa.
1. saya setuju dengna pendapat-pendapat seblumnya yakni dengna menerapkan kelima assesmen tersebut
BalasHapus2. saya sependapat dengan pendapat kak liya yakni dilihat dari prinsip-prinsip asesmen
3. dengna menggunakan rubrik penilaian yang baik dan benar
menurut saya cara mendesain alat asesmen yang mampu merefleksikan hasil belajar siswa salah satunya dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan proses belajar siswa yang diberikan oleh guru. sehingga pembelajaran yang diberikan mampu merefleksikan hasil belajar siswa
BalasHapusmenurut saya cara mendesain asesmen yang mampu menampilkan hasil belajar siswa harus dilihat dari karakteristik materi yang diajarkan, agar penilaian dapat terefleksi dengan baik, tentunya penilaian harus bisa mengeksplor kemampuan siswa.
BalasHapus